ayat-ayat cinta

Posted on March 16th, 2008 in Uncategorized by dhoncol

Ayat-Ayat Cinta “The Movie”

Menarik melihat antusiasme penikmat film di republik

Indonesia

ini untuk menyaksikan film layar lebar “Ayat-Ayat Cinta” yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy.  Sekali lagi saya harus mengakui bahwa sudut pandang saya ternyata memang sedikit menyimpang dari selera pasar.  Terus terang saya sudah menonton film tersebut walaupun harus dipaksa, karena sebenarnya saya lebih tertarik untuk menyaksikan ”Jumper”.  Pada awal film saat saya melihat nama Punjabi bros yang menaungi produksi fim ini terus terang mulut saya semakin mengerucut.  Ya, saya semakin pesimis saya akan mendapatkan suguhan film pribumi yang masuk dalam kategori A atau minimal B dalam standar saya, menilik sinetron-sinetron dalam negeri yang beredar sebagian besar juga berbendera sama.  Kualitasnya? Jangan ditanya.  Sedikit terhibur melihat nama Hanung Bramantyo sebagai sutradara.  Nama seorang sineas muda yang menjadi salah satu pelaku era baru perfilman lokal ini sedikit memberi saya harapan akan keluar bioskop dengan hati yang puas.  Tapi ternyata saya tetap harus pulang dengan gerutuan dan wajah yang sebal.

Sebagian besar, bila tidak ingin dikatakan hampir semua, pendapat yang keluar atas film tersebut kalau saya rangkumkan adalah luar biasa, menyentuh, oase ditengah gurun pasir perfilman Indonesia, pencerahan, film alternatif, agamis ditengah serbuan mistis. Tapi secara pribadi harus saya katakan, tanpa mengurangi apresiasi saya pada novel asal cerita berikut penulisnya, film ini tetaplah ”film indonesia”.  Ya, film ”khas” Indonesia yang miskin alur cerita, mudah ditebak, seret imajinasi, dan sedikit tidak masuk akal pada beberapa adegan.  Mudah sekali meraba ceritanya, bahkan satu jam sebelum film berakhir saya sudah bisa melihat gambaran umum alur ceritanya hingga selesai.  Secara umum saya katakan film ini hanya sebuah tampilan cerita klise dengan bungkus dan pemeran yang baru, sebuah cerita sinetron dalam tampilan layar lebar.  Dan yang membuatnya laris dipasaran hanyalah faktor novelnya sendiri yang laku dipasaran dan memang memiliki kualitas dan nilai tersendiri yang membuat orang menjadi antusias untuk menyaksikan film yang di angkat dari novel tersebut.




Post a comment