Studi banding? yang bener aja

Posted on March 30th, 2008 in Uncategorized by dhoncol

JAKARTA - Studi banding alias "plesiran" anggota DPR ke luar negeri tampaknya memang tidak bisa dibendung. Kunjungan pansus RUU Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan ke Brazil dan Aljazair, didukung penuh oleh Ketua DPR. "Ini bukan tugas yang sifatnya pribadi, tapi tugas kedewanan. Dalam arti, jumlahnya sudah ada ketentuannya dari sekjen, berapa pansus yang bisa diberangkatkan," ujar Ketua DPR Agung Laksono di DPR, Jakarta, Kamis (27/3/2008). Menurut Agung, kunjugan Pansus RUU itu dalam proses legislasi tetap dapat dibenarkan. Sebab, hal itu dilakukan dalam rangka untuk memperoleh masukan-masukan dan memperkaya Pansus DPR tersebut dalam menyelesaikan RUU. "Tentu jumlahnya dibatasi, tidak omdo-omdo (omong doang)," kilahnya. Bahkan ramai dibicarakan, bahwa istri dari Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarifef Hasan yang juga artis, Inggrid Kansil, akan ikut dalam rombongan. "Saya kira berkali-kali dalam situasi seperti ini harus dihindarkan," ujarnya. Jadi, menurut Agung, kunjungan Pansus RUU Gelar, Tanda Jasa, dan Kehormatan itu memang diperlukan. "Tapi untuk legislasi masih diperlukan," …. (Ketua DPR Izinkan Pansus ke Brazil & Aljazair ;Kamis, 27 Maret 2008 - 11:59 wib; Sandy Adam Mahaputra – Okezone)

Menarik,sangat menarik. Berita diatas saya kutip dari Okezone.com. Satu kekonyolan bangsa ini, disaat harga minyak goreng sudah diatas Rp 12.000,-/kg, minyak tanah sudah harus dimasukkan kedalam kategori barang langka, dan disaat gizi buruk sudah tersebar dimana-mana ternyata yang terpikirkan didalam kepala wakil rakyat kita adalah lagi-lagi cara melakukan pembodohan pada rakyat untuk memuaskan hasrat diri mereka sendiri.

Tentu sangat beralasan bila banyak pihak mempertanyakan kepentingan dari studi banding tersebut bagi kepentingan negara, dan tidak pula sedikit cibiran bahwa ini hanyalah salah satu lagi tipu muslihat para wakil rakyat yang terhormat tersebut untuk mendapatkan liburan gratis.  Apa pentingnya kita belajar ke Brazil dan Aljazair mengenai pemberian tanda jasa dan tanda kehormatan. Memperkaya dan memberi masukan pada pansus2 DPR yang tidak penting ?! bullshit, omong kosong.  Apakah hanya untuk merumuskan kriteria, mekanisme dan cara pemberian tanda jasa dan tanda kehormatan saja kita tidak bisa.  LAgipula apa pentingnya masalah RUU pemberian tanda jasa dan tanda kehormatan di negara ini? masih banyak rakyat dinegara ini yang kelaparan, perlu beras, perlu tahu dan tempe untuk tambahan proteinnya, perlu sekolah yang layak dan tidak rubuh untuk belajar.  Disaat negara kita menjadi negara yang belum juga bisa bangkit dari krisis ekonomi, disaat negara kita menjadi salah satu negara yang top dalam hal korupsi, disaat harga diri negara ini mulai diinjak2 oleh negara tetangganya, disaat bencana dan kelapran melanda dimana2, disaat orang2 yang terkubur lumpur rumahnya belum juga mendapat penggantian haknya, ternyata yang menjadi prioritas para wakil rakyatnya hanyalah kepentingan pribadinya, hasrat id dirinya sendiri. dan yang lebih parah semua itu berusaha ditopengi dengan suatu alasan yang bodoh.

Malu, saya malu sebagai anak bangsa ini.  Ini adalah kekonyolan, saya tahu bukan sekali ini kekonyolan ini terjadi tetapi ini sudah tidak dapat ditolerir lagi. Bodoh ya bodoh, tapi mbok ya kentara amat tho paak….

ayat-ayat cinta

Posted on March 16th, 2008 in Uncategorized by dhoncol

Ayat-Ayat Cinta “The Movie”

Menarik melihat antusiasme penikmat film di republik

Indonesia

ini untuk menyaksikan film layar lebar “Ayat-Ayat Cinta” yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy.  Sekali lagi saya harus mengakui bahwa sudut pandang saya ternyata memang sedikit menyimpang dari selera pasar.  Terus terang saya sudah menonton film tersebut walaupun harus dipaksa, karena sebenarnya saya lebih tertarik untuk menyaksikan ”Jumper”.  Pada awal film saat saya melihat nama Punjabi bros yang menaungi produksi fim ini terus terang mulut saya semakin mengerucut.  Ya, saya semakin pesimis saya akan mendapatkan suguhan film pribumi yang masuk dalam kategori A atau minimal B dalam standar saya, menilik sinetron-sinetron dalam negeri yang beredar sebagian besar juga berbendera sama.  Kualitasnya? Jangan ditanya.  Sedikit terhibur melihat nama Hanung Bramantyo sebagai sutradara.  Nama seorang sineas muda yang menjadi salah satu pelaku era baru perfilman lokal ini sedikit memberi saya harapan akan keluar bioskop dengan hati yang puas.  Tapi ternyata saya tetap harus pulang dengan gerutuan dan wajah yang sebal.

Sebagian besar, bila tidak ingin dikatakan hampir semua, pendapat yang keluar atas film tersebut kalau saya rangkumkan adalah luar biasa, menyentuh, oase ditengah gurun pasir perfilman Indonesia, pencerahan, film alternatif, agamis ditengah serbuan mistis. Tapi secara pribadi harus saya katakan, tanpa mengurangi apresiasi saya pada novel asal cerita berikut penulisnya, film ini tetaplah ”film indonesia”.  Ya, film ”khas” Indonesia yang miskin alur cerita, mudah ditebak, seret imajinasi, dan sedikit tidak masuk akal pada beberapa adegan.  Mudah sekali meraba ceritanya, bahkan satu jam sebelum film berakhir saya sudah bisa melihat gambaran umum alur ceritanya hingga selesai.  Secara umum saya katakan film ini hanya sebuah tampilan cerita klise dengan bungkus dan pemeran yang baru, sebuah cerita sinetron dalam tampilan layar lebar.  Dan yang membuatnya laris dipasaran hanyalah faktor novelnya sendiri yang laku dipasaran dan memang memiliki kualitas dan nilai tersendiri yang membuat orang menjadi antusias untuk menyaksikan film yang di angkat dari novel tersebut.