PTT n WANGSIT.

Posted on February 27th, 2007 in Uncategorized by dhoncol

He..he..he.. Apa hubungannya ya PTT ma wangsit.
Ya, sebenarnya ini cuma buat ngungkapin kebingungan (lagi) gw aja. Beberapa bulan yang lalu gw seperti juga sebagian besar kawan-kawan yang lain masih menunggu-nunggu dengan penuh harap bukaan PTT yang baru.  Awal bulan tadi agak rajin juga login ke ropeg-depkes buat ngeliatin kalo-kalo aja pengumuman PTT.  Eh, pucuk dicinta ulam tiba, tanggal 26 kemaren keluar juga tu pengumuman.  Dengan berbunga-bunga gw buka lagi halamannya ropeg, gw baca pengumumannya, trus gw liatin formasi daerah PTTnya.  Lalu perlahan-lahan bunga-bunga tadi mulai gugur dan layu sebelum berkembang..ya.. yang timbul perlahan-lahan malah rasa bingung.  Nah lo, gw mau daftar kemana ni???? Tadinya gw pengen ngambil daerah yang masuk kategori sangat terpencil, tapi langsung kepikiran soal listrik n komunikasi.  Ya listrik, bukan air ato transpor.  Gw bisa tahan mendep di pulau enam bulan atau setahun, gw juga g begitu peduli soal mandi dengan air bersih atau minum air yang layak (he..he..he jorok banget ya gw), tapi membayangkan hidup tanpa hiburan alat-alat yang diberi nyawa oleh listrik n tanpa alat komunikasi keluar yang memadai (oh gosh!!).  Kemudian gw mulai mikir untuk ngedaftar ke daerah dengan kategori terpencil aja, tapi mulai terbayang soal insentif yang (aduuh..bukannya gw matre ya) sama besarnya dengan yang gw dapet sambil luntang lantung di Palembang.  Ada yang cukup menjanjikan si, tadinya gw pengen ikutan daftar ke Kepri, tapi masya Allah.. peminatnya.  Kalah gw, kalah tahun kelulusan, kalah STR, kalah kartu kependudukan.  Dan sekarang sekali lagi gw bengong didepan komputer sambil ngliatin formasi daerah penerima dokter PTT.
Hhh…kayaknya bertahun-tahun di"manjakan" listrik dan satelit udah bikin gw kehilangan jiwa petualang (…..), kalo bukan mau dibilang keilangan semangat juang ato semangat berbakti pada ibu pertiwi (???).  Jadi gw dah mulai mikir-mikir mau nekat aja ni.  Sambil menunggu "wangsit".  Gila, udah persis kaya orang mau masang nomor togel aja gw.  Mudah-mudahan seminggu ini Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana berkenan menjernihkan pikiran dan logika gw biar gw menimbang dengan baik, bijaksana, cermat, dan efisien.  Jadi langkah apa yang gw pilih ntar gak cuma sekedar "nekat" arau hanya secercah wangsit. gee..man! gua percaya sama insting, but wangsit (heck!) kalo di Jiwa dibilang halusinasi auditorik tu.  Salah-salah di dianosis Schizo ntar…

ironis

Posted on February 21st, 2007 in Uncategorized by dhoncol

Ironis,
Ya, satu kata itulah yang terlintas dalam benak saya saat mendengan
beberapa berita di televisi akhir-akhir ini mengenai operasi pasar
beras untuk rakyat miskin. Bagaimana tidak, dalam pembagian beras yang
notabene untuk orang miskin tersebut ternyata masih banyak pihak yang
mencari keuntungan sendiri. Berapa kali saya dengar dalam berita
tersebut bahwasanya banyak beras operasi pasar tersebut yang malah
jatuh ketangan para pedagang yang akan menjual kembali beras tersebut
pada orang miskin, yang sebenarnya lebih berhak dan lebih perlu atas
beras tersebut, untuk mendapatkan keuntungan sendiri.
Banyak opini yang mengatakan perlunya bulog ,sebagai pihak yang
bertanggungjawab atas operasi pasar tersebut, untuk meningkatkan
pengawasan dalam operasi pasar yang dilakukannya.  Tetapi opini saya
sendiri mempertanyakan "sudah semiskin inikah mental bangsa kita?".
"Sudah sebegitu mengakarkah perilaku purbakala yang hanya mengedepankan
id tanpa kendali ego dan superego ini pada bangsa  kita?" Karena
ternyata bukan hanya pihak atas yang terus  mengambil  keuntungan
sambil membutakan mata dan hati mereka atas keadaan orang lain dinegara
ini yang dalam orasi-orasi jaman perjuangan dulu disebut sebagai
"saudara-saudara sebangsa dan setanah air!!!", tapi juga pihak bawah
yang menggunakan setiap kesempatan yang ada dan yang mereka miliki
untuk untuk mengeruk keuntungan pribadi.  Tidak ada pihak yang malu
untuk meminta kenaikan gaji, atau memborong beras operasi pasar
sementara banyak diantara saudara-saudaranya yang bahkan untuk
mendapatkan nasi aking pun sudah kesusahan. Tidak ada pihak yang merasa
malu untuk menuntut pembangunan ruang-ruang mewah pribadi dikantor
mereka sementara banyak orang yang harus tinggal di penampungan.
Berapa banyak pula orang yang merasa keberatan mengembalikan beberapa
puluh uang rapel dengan alasan mereka tidak punya cukup uang, dengan
segala kendaraan dan tempat tinggal mewah yang mereka miliki, sementara
banyak orang yang bahkan untuk mencari uang 10.000 rupiah pun sudah
setengah mati.
Kadang terngiang kembali kata-kata seorang teman saya, "Indonesia
memerlukan revolusi total untuk menghilangkan segala keburukan yang
mengakar dalam diri orang-orangnya.  Satu generasi harus dimusnahkan
supaya rantai keburukan ini  terputus." Suatu pemikiran yang absurd
memang, tapi cukup untuk mewakili  bahwasanya segala masalah dan
kerusakan yang diderita bangsa kita ini karena memang kepribadian
bangsa kita yang rusak dan bahwasanya kerusakan itu akan terus
diturunkan pada generasi-generasi berikutnya bila kita tidak segera
sadar dan berusaha untuk berubah. Ya! kita, bukan saya, anda, kamu, atau kalian.