ramadhan….lagi..

Posted on September 27th, 2006 in Uncategorized by dhoncol

A bit too late dan terkesan ikut2an rasanya untuk mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa dihari ke 5 ini.  But better late than none right?!

Sekali lagi dapat kesempatan bertemu ramadhan, bulan nan agung, penuh dengan rahmat, berkat dan ampunan.  Bulan dimana setiap amalan berlipat ganda balasannya.  Tapi ini juga bulan yang penuh perjuangan.  Perjuangan melawan berbagai godaan, baik fisik, rohani, serta fisika, kimia dan biologis.  Akankah puasa kali ini akan lebih baik dari yang lalu? atau mungkin sama saja seperti tahun sebelumnya? atau bahkan lebih buruk? Outcome dari pertanyaan tersebut akan menentukan apakah kita orang yang beruntung, merugi, atau bahkan celaka.

Terakhir yang dapat diucapkan adalah sekelumit doa dari hamba yang ibadahnya penuh salah dan cela..

"Taqobballahu minnaa wa minkum"

Dan mari kita timpali bersama..

"minna wa minkum taqabbal yaa kariim"

Posted on September 9th, 2006 in Uncategorized by dhoncol

Kata orang mahasiswa adalah orang-orang yang harusnya kritis dan sensitif terhadap persoalan disekitarnya. Kata orang mahasiswa adalah tonggak reformasi negara. Kata orang juga mahasiswa adalah orang-orang yang harus punya idealisme yang tegas. Dimana-mana para mahasiswa aktif berdemonstrasi dalam masalah apa saja, baik itu intern kampus, masalah tingkat propinsi, nasional, dan internasional; mulai dari masalah keagamaan, politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Saya orang yang cenderung apatis dengan segala permasalahan yang ada disekitar saya. Tidak seperti sebagian kawan saya yang begitu aktif turut bagian didalam demonstrasi, saya lebih cenderung untuk menganggap demonstrasi adalah perbuatan yang cenderung sia-sia dan tidak pernah dengan “gagah berani” dan penuh “patriotisme” ambil bagian pada salah satu diantaranya. Menurut saya demonstrasi hanya menyusahkan diri dan menyusahkan orang lain tanpa ada penyelesaian masalah, bahkan terkadang hanya menambah masalah.
Memang tidak dapat dipungkiri kalau cukup banyak pembaruan yang telah terjadi dengan adanya demonstrasi yang dilakukan mahasiswa. Bahkan perubahan besar di negara ini pun boleh dikatakan terjadi dengan perantaraan demonstrasi mahasiswa. Tetapi sebagian besar demonstrasi yang pernah saya lihat hanyalah menjadi suatu forum menyuarakan pendapat tanpa memberikan solusi dan tanpa menggubris alasan dari pihak yang menjadi tujuan demonstrasi mereka. Demonstrasi adalah forum menyuarakan egoisme, bukan idealisme. Ya, demonstrasi yang saya lihat adalah suatu forum yang dengan gagahnya menyatakan bahwa pendapat mereka yang berdemonstrasi adalah kebenaran yang “mutlak”, dan yang tidak sesuai dengan pendapat mereka adalah kesalahan yang juga “mutlak”. Demonstrasi yang saya lihat adalah suatu pergerakan orang-orang yang tuli dengan pendapat orang lain. Tak sedikit demonstrasi yang hanya menjadi forum caci-maki atau amuk masal. Sedikit, kalaupun ada, demonstrasi yang menyuarakan suatu kebijaksanaan dari orang-orang yang terdidik, yang dengan segala keterbukaan dan keluasan pikirannya bersedia melihat dan menganalisis suatu masalah dari segala sudut pandang, dan kemudian dengan arif mengambil keputusan yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Hampir tidak ada demonstrasi yang saya lihat yang tidak menjadi suatu forum pelampiasan emosi dan ego masal belaka.
Demonstrasi-demonstrasi yang saya lihat adalah kegiatan yang memacetkan jalan raya, kegiatan yang menyiksa (walau sebagian besar mengatakan menempa) para pelakunya dengan panas dan teriknya sinar matahari, kegiatan yang hanya menimbulkan korban karena baku hantam dengan aparat. Demonstrasi yang saya lihat adalah kegiatan yang tidak memberikan manfaat apapun selain pemuasan ego para pelakunya. Pernahkah anda lihat demonstrasi di tempat-tempat yang rapih dan teratur. Pernahkah anda melihat demonstrasi yang menggunakan presentasi yang baik selain karton-karton atau spanduk-spanduk dengan tulisan yang “apa adanya”. Mungkin dikatakan bahwa mahasiswa berdemonstrasi demi rakyat, jadi caranya pun harus merakyat. Tapi kenapa kita lupa bahwa mahasiswa adalah orang-orang yang berpendidikan, jadi juga harus melakukan demonstrasi dengan cara yang terdidik.
Ya, sangat mungkin sekali pendapat saya ini akan disangkal habis-habisan, atau bahkan dicibir dan turut mendapat “caci-maki”, oleh sebagian besar orang. Tapi jika anda memang orang yang berpikiran terbuka, ini seharusnya menjadi masukan bagi anda.terlepas dari impresi yang akan anda dapatkan bahwasanya saya adalah orang yang apatis, yang tidak punya idealisme dan tidak punya jiwa kerakyatan.

Impor beras ?? pliss deh…..

Posted on September 3rd, 2006 in Uncategorized by dhoncol

Impor beras ?? pliss deh…..

Dhoni Suhendra

Didalam Kompas edisi hari Sabtu 2 September 2006, termuat sebuah artikel yang berjudul “Impor Beras 210.000 Ton”.  Didalam artikel tersebut disebutkan bahwasanya menurut menko perekonomian menyatakan bahwasanya negara kita akan mengimpor beras karena persediaan beras cadangan negara anjlok.  Pernyataan tersebut juga di amini oleh wakil presiden, msaih didalam artikel yang sama, yang menyatakan bahwasanya tujuan dari impor tersebut ada 2 hal, yang pertama adalah cadangan beras negara sebanyak satu juta ton dan yang kedua adalah untuk menjaga stabilitas harga beras.  Tujuan yang dapat dikatakan “mulia” untuk telinga rakyat jelata yang awam seperti saya.  Tetapi anehnya saat saya melanjutkan membaca artikel tersebut, ternyata ada pernyataan menteri pertanian bahwasanya negara kita masih swasembada beras, nah loh. Pertanyaan yang seketika muncul dibenak saya adalah negara swasembada seperti apa yang masih perlu mengimpor beras dari negara lain.  Meskipun diartikel tersebut menteri pertanian juga menyatakan bahwa patokan swasembada adalah 90% pasokan beras dalam negeri dapat dipenuhi dengan produksi sendiri, masih sulit bagi nalar saya untuk menerima kenyataan bahwa negara kita adalah negara mandiri yang masih memerlukan bantuan. 

Lucunya lagi didalam artikel tersebut juga dinyatakan bahwa Gubernur Lampung mengatakan bahwa produksi beras daerahnya surplus, bahkan kalau perlu daerahnya akan memenuhi kebutuha beras dari daerah lain.  Sementara Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonesia, menyatakan dengan tegas berdasarkan data mereka dari Sumatera, Jawa, NTB, Bali, dan Sulawesi, bahwasanya impor beras tidak diperlukan karena produksi dalam negeri masih cukup.  Saya sebagai pembaca menjadi semakin bingung, dengan keyakinan daerah yang sebegitu kuatnya bagaimana pemerintah pusat menyatakan negara kita kekurangan stok beras.  Apakah salah satu data tersebut tidak valid, ataukah memang ada standar yang berbeda dalam mendefinisikan “kecukupan  akan beras” antara pusat dan daerah?

Sebenarnya berdasarkan pengalaman, impor beras memang membuat harga beras menjadi terkendali, sangat terkendali bahkan bila tidak ingin dikatakan sangat tertekan.  Ya, beras murahan kelas dua atau bahkan tiga yang kita impor tersebut telah membuat harga beras dalam negeri turun.  Seperti yang tersirat didalam hukum ekonomi dasar bahwasanya ketersediaan barang yang sangat banyak akan mengakibatkan penurunan harga barang tersebut.  Akibatnya siapa yang dirugikan? Apakah hanya petani saja? Tidak, yang dirugikan adalah seluruh rakyat.  Harga beras yang turun akan menurunkan harga beras dan mengurangi pembelian beras dari daerah (karena beras impor memang notabene lebih murah daripada beras lokal).  Hal tersebut akan menimbulkan kerugian yang sangat besar pada petani, karena mereka akan menderita kerugian dan terpaksa menjual berasnya dengan harga yang juga rendah (yang tentu tidak sebanding dengan biaya produksinya), dan mengurangi produksi beras mereka pada musim tanam berikutnya yang alih-alih mengurangi masalah kurangnya produksi beras seperti yang dicanangkan pemerintah, pada akhirnya malah akan menurunkan produksi total beras nasional itu sendiri.  Belum lagi banyaknya potensi kecurangan yang akan timbul selama proses tersebut, hingga dapat kita perkirakan berapa besar kerugian yang akan diderita negera kita.  Terlebih lagi bila kita melihat kenyataan bahwasanya beras yang diimpor tersebut, bahkan yang dari Thailand (yang katanya durian, pepaya, bahkan ketimunnya kelas satu) sekalipun, tidak berada dalam mutu dan kondisi yang sebaik beras yang tumbuh ditanah kita sendiri. 

Kita memang harus memafhumi alasan pemerintah bahwasanya stok  beras negara banyak berkurang karena banyaknya bencana yang terjadi yang membutuhkan banyak pasokan beras dari negara.  Tetapi kita pun harus mempertanyakan kekurangan tersebut jika data-data dari daerah masih menunjukkan kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan beras nasional.  Akan lebih baik jikalau pemerintah pusat dan daerah secara transparan dan besar hati melakukan peninjauan kembali data mereka dan data daerah untuk menentukan validitas dan reliabilitas data masing-masing sehingga dapat dicapai satu kesatuan pendapat mengenai perlu tidaknya dilakukan impor beras.  Bukannya saling berkeras satu sama lain memertahankan keyakinan akan kebenaran data masing-masing.  Sehingga akan didapatkan penyelesaian yang lebih baik, efektif, dan efisien.

Terlepas dari semua hal diatas, saya pribadi selalu yakin bahwa beras kita adalah beras kelas atas dan kualitasnya, mengutip kata-kata di novel-novel pendekar jaman dulu, “pilih tanding”.  Jadi kalau kita hendak mengimpor beras kelas dua atau bahkan kelas tiga dari negara lain, Cuma dua kata yang dapat saya katakan, pliss deh…….

LUAPAN LUMPUR: CERMINAN KEPRIMITIFAN BANGSA

Posted on September 3rd, 2006 in Uncategorized by dhoncol

LUAPAN LUMPUR: CERMINAN KEPRIMITIFAN BANGSA

Dhoni Suhendra

Miris sekali bahwasanya sampai detik ini penanganan kasus luapan lumpur di Sidoarjo yang telah menimbulkan kerugian yang sangat besar tersebut masih menggunakan cara-cara yang relatif “primitif”.  Ya, primitif, kita sebagai manusia dipaksa berlomba dengan lumpur.  Apa yang di Palembang sini sering disebut orang sebagai “setahanan”, kita yang tidak tahan menghadapi luapan lumpur atau lumpurnya yang tidak tahan lalu berhenti meluap.  Bayangkan bahwa cara yang dapat diusahakan hingga saat ini hanyalah membuat kolam penampungan lumpur dan pembuatan relief well yang sampai saat ini masih belum dapat kita lihat efektifitasnya dalam menahan luapan lumpur yang terjadi, bahkan telah menghabiskan ratusan hektar lahan yang seharusnya dapat menghasilkan dan merupakan sumber penghasilan.  Lucu, dinegara yang penduduknya membludak ini, dimana penduduk sudah mulai bingung mau tinggal dimana, malah lahan yang ada diberikan pada lumpur.  Cara alternatif yang hendak ditempuh saat ini bahkan lebih primitif lagi, lumpurnya hendak dibuang kelaut atau kedaerah lain untuk, katanya, kemudian dibuat menjadi bahan dasar pembuatan genteng atau batu bata, atau dibuang kelaut.  Konyol, ya, konyol memindahkan satu masalah ketempat yang lain, bukan menyelesaikannya.  Yang manapun dari kedua cara yang akan ditempuh tersebut hingga sekarang tidak akan menimbulkan efek apapun kecuali tambahan konflik.  Tanpa informasi apapun yang adekuat dan transparan mengenai kandungan dari lumpur tersebut, apa risiko yang dapat ditimbulkan oleh lumpur tersebut, dan jaminan dari untuk para penduduk yang daerahnya akan dijadikan tempat pembuangan lumpur tersebut bahwa lumpur tersebut tidak akan menimbulkan bahaya maupun kerugian apapun pada mereka, sekali lagi cara-cara tersebut tidak akan menghasilkan apapun kecuali tambahan konflik. 

Kenapa cara yang bisa kita lakukan hingga saat ini hanya cara-cara “primitif” tersebut? Tentu saja karena cara-cara tersebut keluar dari benak orang-orang konyol yang panik.  Orang-orang yang hanya dapat memikirkan penyelesaian jangka pendek.  Orang-orang yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan masalah.  Kenapa hal ini dapat terjadi? Apakah karena bangsa kita ini memang bangsa yang primitif? Atau mungkin rakyat bangsa ini semuanya adalah orang bodoh, konyol, dan tidak berpendidikan? Kalau memang demikian lantas kemana para pemikir Indonesia, kemana para ahli teknologi Indonesia, kemana perginya para “orang pintar” Indonesia? Negara kita, bangsa kita adalah bangsa yang cerdas, tentu kita masih ingat berapa banyak medali emas olimpiade fisika tingkat internasional yang dimiliki negara kita, dan walaupun informasinya sangat sedikit telah ada beberapa ilmuwan negara kita yang telah memberikan sumbangsih pada dunia ilmu pengetahuan dan telah diakui oleh dunia.  Tetapi sayangnya, dinegara ini para pemikir tidak memiliki tempat yang khusus, para ilmuwan hanya menjadi kumpulan orang-orang berjas putih, berkacamata tebal didalam sebuah laboratorium dengan mikroskop, orang pintar hanya memperoleh ucapan selamat, secuil pujian dan sedikit sekali insentif, RISET dan PENGEMBANGAN adalah aktifitas yang sangat asing dan hampir tidak dikenal, dinegara ini PENDIDIKAN dan para PENDIDIK hanyalah priorias nomor sekian.  Dinegara ini pendidikan tidak dianggap pantas untuk medapatkan bagian dana yang hanya 20% sekalipun.

Dari sekian lama kasus luapan lumpur ini terjadi, apa pernah kita sekali saja mendengar pemerintah memanggil para ilmuwan di Indonesia ini untuk berkumpul bersama-sama menyumbangkan ide dan pikiran mereka, yang tidak perlu diragukan lagi akan luar biasa banyaknya, untuk mengatasi masalah lumpur ini? Tidak, sekali lagi TIDAK!!! Pemerintah hanya sibuk berkoar-koar tidak karuan, pemerintah hanya menjanjikan omong kosong mereka dibalik kata-kata kepentingan, kesejahteraan, dan keselamatan rakyat.  Pemerintah terus dan terus berkeras kepala dan berkeras hati menolak untuk mengakui ketidakmampuan mereka.  Pemerintah tidak pernah mau menyadari bahwa mereka hanyalah kumpulan orang-orang yang terdidik tetapi TIDAK CERDAS.  Yang mereka lakukan adalah membuang-buang uang, waktu, dan biaya untuk melakukan kunjungan dan melaksanakan rapat-rapat antar mereka yang sampai sekarang tidak pernah kita lihat menghasilkan apapun selain omong kosong, ya, OMONG KOSONG.  Tidak pernah secuilpun mereka berkenan untuk melonggarkan lebih banyak biaya untuk memfasilitasi orang-orang yang memang “PANTAS” dan BERKOMPETEN untuk menangani masalah ini.  Tidak pernah sekalipun tercuat dibenak mereka untuk mengeluarkan biaya guna memfasilitasi riset dan penelitian oleh para ahli supaya ditemukanlah cara-cara yang lebih modern dan lebih beradab untuk mengatasi masalah-masalah seperti yang dicontohkan alah satunya diatas.

Dinegara-negara yang lebih maju hampir dapat dipastikan bahwa cara yang akan ditempuh jika mereka mengalami masalah seperti luapan lumpur ini adalah cara yang lebih canggih, efektfif, dan efisien.  Mengapa? Karena disana setiap tindakan yang diambil adalah hasil pemikiran para ilmuwan dan para ahli dibidangnya.  Bukan dari otaknya orang-orang yang SOK TAHU yang merasa besar dan merasa bahwa dirinya adalah ahli dalam menyelesaikan segala masalah.  Karena disana ilmuwan dan para ahli adalah orang yang memiliki tempat dan mendapatkan perhatian serta memiliki hak yang istimewa.  Dinegara-negara tersebut PENDIDIKAN adalah prioritas utama, RISET dan PENGEMBANGAN adalah aktifitas yang sangat penting, dan PARA ILMUWAN adalah bahan bakar dasar mereka untuk melepaskan diri dari “KEPRIMITIFAN”. 

Ya tidak dapat dipungkiri bahwa negara kita masih menjadi negara yang terbelakang, dan dapat diyakini akan terus demikian selama pergerakan dan pemupukan dasar-dasar kemajuan tidak pernah menjadi prioritas.  Berapa lama lagi kita akan seperti ini? Mungkin seminggu, sebulan, setahun, seratus tahun, atau malah selamanya? Siapa yang tahu………

obat nyamuk: quality asssurance, responsibility, social awareness

Posted on September 2nd, 2006 in Uncategorized by dhoncol

beberapa waktu yang lalu saya ditertawakan kawan disebelahg kamar saya karena saya masih menggunakan satu jenis obat nyamuk merk "X".  Teman saya berkata "woi dhon, dah dilarang obat nyamuk ini, gek mati kau keracunan".  Saya saat itu betul-betul tidak tahu, dan memang pemberitahuan mengenai hal tersebut ternyata hanya dilakukan beberapa kali, di beberapa media, dan beberapa saat saja.  Menyedihkan…sebagai seorang konsumen saya kecewa berat, untuk berita yang sepenting ini sangat tidak sebanding lama, intensitas, dan banyaknya pemberitahuan yang diberikan, jauh dari adekuat…

Beberapa waktu kemudian saat sedang berbelanja ke sebuah pasar swalayan, saya kembali terkejut.  obat nyamuk merk "X" tersebut masih terpampang, untuk dijual kepada pelanggan.  Entah apakah penjualnya tidak tahu, tidak mau tahu, atau merasa tidak mau tahu mengenai keselamatan dan kesehatan pelanggannya.  Entah pula apakah  produsen belum selesai menarik produk "beracunnya" tersebut, ataukah mereka belum selesai mencetak dan mengirimkan pemberitahuan pada para distributor mereka, atau malah mungkin mereka memang perusahaan yang menjual racun nyamuk dan sekalian manusianya…Serta entah pula apakah pemerintah memang belum tahu, tidak tahu, atau memang tidak mau tahu bahwa rakyatnya terancam untuk menghisap racun kedalam paru-paru mereka.

Quality assurance, atau yang  saya terjemahkan sebagai jaminan mutu adalah hal yang sangat vital dalam berbisnis.  Dengan adanya quality assurance maka pelanggan akan merasa aman, tenang, dan sukacita dalam menggunakan produk yang  dihasilkan, karena tidak ada alasan bagi mereka untuk meragukan apa yang telah mereka beli dan gunakan.  Dengan penegakan quality assurance yang baik maka kepercayaan pelanggan akan terpupuk subur dan tegak dengan kokoh.  Ini adalah dasar untuk terbentuknya kredibilitas dari sebuah usaha.

Lantas Quality assurance seperti apa yang ditunjukkan oleh produsen obat nyamuk tersebut??? Mereka telah menggunakan bahan yang dapat membahayakan kesehatan dan kesejahteraan pelanggan mereka yang telah dengan suka hati mengeluarkan biaya untuk memakai produk mereka.  Terlebih lagi dengan kesalahan yang mereka telah perbuat, produsen tersebut tidak melakukan langkah-langkah antisipasi yang akan membuat konsumen mafhum bahwasanya keselahan tersebut bukanlah faktor yang disengaja, misalnya dengan segera menarik produk mereka yang ada dipasaran, melarang distributor untuk menjual lagi produk tersebut sampai dinyatakan kembali aman, atau memberikan informasi yang adekuat hingga tidak ada lagi orang yang secara tidak sengaja tetap menghisap racun yang mereka tuangkan didalam produk mereka. 

selain itu dimana tanggungjawab para distributor yang mencari uang dan penghidupan dari para pelanggannya.  Mustinya mereka kritis dan peduli pada isu yang saya sebutkan diatas.  tapi buktinya sampai hari ini mereka masih menjajakan produk "terlarang" tersebut.  tanpa peduli pada nasib orang2 yang berbelanja pada mereka, yang telah mmeberikan "sebagian rejekinya" untuk membeli dagangan dan menghidupi mereka.

Yang paling penting, dimana tanggungjawab pemerintah Negara Republik Indonesia untuk melindungi rakyatnya.  dimana itu wakil rakyat yang berkoar-koar hendak menyejahterakan rakyat, menyehatkan bangsa, dan omong kosong lainnya.  untuk hal yang sepele ini saja mereka tidak peduli terlebih lagi untuk hal yang lebih besar….

dan yang terakhir dimana social awareness kita sebagai korban dari semua ini, kenapa kita diam saja, kenapa kita seakan tidak peduli bila kita, saudara kita, anak-anak kita, orang tua kita, dan orang-orang disekitar kita berada dalam ancaman untuk memasukkan racun kedalam tubuh nya. ya kenapa kita, kenapa saya, kenapa anda diam saja…..