LUAPAN LUMPUR: CERMINAN KEPRIMITIFAN BANGSA
Dhoni Suhendra
Miris sekali bahwasanya sampai detik ini penanganan kasus luapan lumpur di Sidoarjo yang telah menimbulkan kerugian yang sangat besar tersebut masih menggunakan cara-cara yang relatif “primitif”. Ya, primitif, kita sebagai manusia dipaksa berlomba dengan lumpur. Apa yang di Palembang sini sering disebut orang sebagai “setahanan”, kita yang tidak tahan menghadapi luapan lumpur atau lumpurnya yang tidak tahan lalu berhenti meluap. Bayangkan bahwa cara yang dapat diusahakan hingga saat ini hanyalah membuat kolam penampungan lumpur dan pembuatan relief well yang sampai saat ini masih belum dapat kita lihat efektifitasnya dalam menahan luapan lumpur yang terjadi, bahkan telah menghabiskan ratusan hektar lahan yang seharusnya dapat menghasilkan dan merupakan sumber penghasilan. Lucu, dinegara yang penduduknya membludak ini, dimana penduduk sudah mulai bingung mau tinggal dimana, malah lahan yang ada diberikan pada lumpur. Cara alternatif yang hendak ditempuh saat ini bahkan lebih primitif lagi, lumpurnya hendak dibuang kelaut atau kedaerah lain untuk, katanya, kemudian dibuat menjadi bahan dasar pembuatan genteng atau batu bata, atau dibuang kelaut. Konyol, ya, konyol memindahkan satu masalah ketempat yang lain, bukan menyelesaikannya. Yang manapun dari kedua cara yang akan ditempuh tersebut hingga sekarang tidak akan menimbulkan efek apapun kecuali tambahan konflik. Tanpa informasi apapun yang adekuat dan transparan mengenai kandungan dari lumpur tersebut, apa risiko yang dapat ditimbulkan oleh lumpur tersebut, dan jaminan dari untuk para penduduk yang daerahnya akan dijadikan tempat pembuangan lumpur tersebut bahwa lumpur tersebut tidak akan menimbulkan bahaya maupun kerugian apapun pada mereka, sekali lagi cara-cara tersebut tidak akan menghasilkan apapun kecuali tambahan konflik.
Kenapa cara yang bisa kita lakukan hingga saat ini hanya cara-cara “primitif” tersebut? Tentu saja karena cara-cara tersebut keluar dari benak orang-orang konyol yang panik. Orang-orang yang hanya dapat memikirkan penyelesaian jangka pendek. Orang-orang yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan masalah. Kenapa hal ini dapat terjadi? Apakah karena bangsa kita ini memang bangsa yang primitif? Atau mungkin rakyat bangsa ini semuanya adalah orang bodoh, konyol, dan tidak berpendidikan? Kalau memang demikian lantas kemana para pemikir Indonesia, kemana para ahli teknologi Indonesia, kemana perginya para “orang pintar” Indonesia? Negara kita, bangsa kita adalah bangsa yang cerdas, tentu kita masih ingat berapa banyak medali emas olimpiade fisika tingkat internasional yang dimiliki negara kita, dan walaupun informasinya sangat sedikit telah ada beberapa ilmuwan negara kita yang telah memberikan sumbangsih pada dunia ilmu pengetahuan dan telah diakui oleh dunia. Tetapi sayangnya, dinegara ini para pemikir tidak memiliki tempat yang khusus, para ilmuwan hanya menjadi kumpulan orang-orang berjas putih, berkacamata tebal didalam sebuah laboratorium dengan mikroskop, orang pintar hanya memperoleh ucapan selamat, secuil pujian dan sedikit sekali insentif, RISET dan PENGEMBANGAN adalah aktifitas yang sangat asing dan hampir tidak dikenal, dinegara ini PENDIDIKAN dan para PENDIDIK hanyalah priorias nomor sekian. Dinegara ini pendidikan tidak dianggap pantas untuk medapatkan bagian dana yang hanya 20% sekalipun.
Dari sekian lama kasus luapan lumpur ini terjadi, apa pernah kita sekali saja mendengar pemerintah memanggil para ilmuwan di Indonesia ini untuk berkumpul bersama-sama menyumbangkan ide dan pikiran mereka, yang tidak perlu diragukan lagi akan luar biasa banyaknya, untuk mengatasi masalah lumpur ini? Tidak, sekali lagi TIDAK!!! Pemerintah hanya sibuk berkoar-koar tidak karuan, pemerintah hanya menjanjikan omong kosong mereka dibalik kata-kata kepentingan, kesejahteraan, dan keselamatan rakyat. Pemerintah terus dan terus berkeras kepala dan berkeras hati menolak untuk mengakui ketidakmampuan mereka. Pemerintah tidak pernah mau menyadari bahwa mereka hanyalah kumpulan orang-orang yang terdidik tetapi TIDAK CERDAS. Yang mereka lakukan adalah membuang-buang uang, waktu, dan biaya untuk melakukan kunjungan dan melaksanakan rapat-rapat antar mereka yang sampai sekarang tidak pernah kita lihat menghasilkan apapun selain omong kosong, ya, OMONG KOSONG. Tidak pernah secuilpun mereka berkenan untuk melonggarkan lebih banyak biaya untuk memfasilitasi orang-orang yang memang “PANTAS” dan BERKOMPETEN untuk menangani masalah ini. Tidak pernah sekalipun tercuat dibenak mereka untuk mengeluarkan biaya guna memfasilitasi riset dan penelitian oleh para ahli supaya ditemukanlah cara-cara yang lebih modern dan lebih beradab untuk mengatasi masalah-masalah seperti yang dicontohkan alah satunya diatas.
Dinegara-negara yang lebih maju hampir dapat dipastikan bahwa cara yang akan ditempuh jika mereka mengalami masalah seperti luapan lumpur ini adalah cara yang lebih canggih, efektfif, dan efisien. Mengapa? Karena disana setiap tindakan yang diambil adalah hasil pemikiran para ilmuwan dan para ahli dibidangnya. Bukan dari otaknya orang-orang yang SOK TAHU yang merasa besar dan merasa bahwa dirinya adalah ahli dalam menyelesaikan segala masalah. Karena disana ilmuwan dan para ahli adalah orang yang memiliki tempat dan mendapatkan perhatian serta memiliki hak yang istimewa. Dinegara-negara tersebut PENDIDIKAN adalah prioritas utama, RISET dan PENGEMBANGAN adalah aktifitas yang sangat penting, dan PARA ILMUWAN adalah bahan bakar dasar mereka untuk melepaskan diri dari “KEPRIMITIFAN”.
Ya tidak dapat dipungkiri bahwa negara kita masih menjadi negara yang terbelakang, dan dapat diyakini akan terus demikian selama pergerakan dan pemupukan dasar-dasar kemajuan tidak pernah menjadi prioritas. Berapa lama lagi kita akan seperti ini? Mungkin seminggu, sebulan, setahun, seratus tahun, atau malah selamanya? Siapa yang tahu………