where to find collectibles

Posted on October 20th, 2008 in Uncategorized by dhoncol

What is your hobby? Well, my hobby is collecting seashells.I love to collect seashells from every beaches and sea in the world.Most of the time I don’t actually visit those beaches or sea to get my collection since it cost a lot of money and time. Instead I just buy it from a special store that sells it.Unfortunately, I cannot just find such place easily since it’s only available in some area.How about you? Do you have the same problem like I do? Do you like to collect stuff like action figures, rare dolls, cigar, pipes, or even baseball cards and pokemon cards, but just don’t know where to find it?
Then, I have a good us for us. We can easily find those things online through http://www.shopwiki.com/wiki/Collectibles+and+Memorabilia .Unlike other online shop, all we need is just wiki.We don’t have to jump to many sites to find collectibles we prefer since wiki provide us with link to all providers that sell this kind of thing. For instance, I’m looking for something that related to seashells.  Then I just need to click seashells in the shop and it give me the link to those who provide it like www.target.com, http://www.hiidea.com, www.bluewaterweb.com,and www.amazon.com.So I can find the seashells I like for my collection with just clicking on that site, practical, efficient, and surely economic.

Bookmark and Share

paid to review

Posted on October 11th, 2008 in Uncategorized by dhoncol

Paid to review, get paid to blog or whatever people call it is a name of a program in the internet.  In this program netters are paid to reviewing a product, service, or and advertising website.  It’s roumored that people can get hundreds or even thousands of dollar in accumulation from this program. Does this program real? Does this program realy earn you dollars?

The answer, TRUE.  Many bloggers or webmasters have taste joy of earning dollars from this program.  To be honest, the amount of that dollars they got is quite amaze me.  Can you believe they can get hundreds of bux for making reviews in their blogs or website.  I don’t believe it at first actually.  Yet after I show some proof, I have no choice but to believe it.

Well ofcourse that’s not just an easy money they get.  To get money from this program you have to meet several requirement.  Those requirements are:

  1. You must have a blog or website.  This is a basic and primary requirement to join this program.
  2. Your blog or website must be at least 3 months old.  So you can not just make a blog or website and instantly join the program.
  3. All or most of the content in your blog or website must be written in English.  Don’t panic though.  If your’e not good in English then this way you can practice to improve it.  So it still brings profit to you.
  4. The last one, which is important for you to get a job after signing in in this program, is you must updating/posting your blog or website in a routinely basis.  At least once a month you must make a new post to your blog or website.

So as you can see they’re not very hard requirements, but not simple either.  So if you interesting in this program, do not hesitate!!!  It’ll sureley brings you profits.  Just make sure you fullfill all the requiements above, and then enjoy you dollars…………

Bookmark and Share

Anda lihat handrail, peganglah

Posted on July 12th, 2008 in Uncategorized by dhoncol

Berapa kali dalam sehari anda menggunakan tangga dalam hidup anda? Suatu pertanyaan yang mungkin tidak pernah terbayang dibenak anda bukan.  Padahal hampir setiap hari kita menggunakan tangga, baik itu dirumah, di kantor, di mall, atau bahkan dikampus.  Mulai dari tangga yang terbuat dari balok kayu, papan, semen, bahkan besi.  OK, pertanyaan berikutnya adalah berapa kali dalam setiap menaiki tangga anda berpegangan pada handrail? Setiap kali, seringkali, kadang-kadang, tidak pernah, atau bahkan mungkin anda tidak tahu apa itu handrail.  Bagi anda yang tidak tahu handrail  adalah pegangan tangan yang ada dipinggiran tangga.  Fungsi dasar dari handrail adalah sebagai pencegah jatuh (fall resist), sebuah fungsi yang amat mulia tentunya melindungi para manusia pemakai tangga dari cidera karena jatuh dari ketinggian.  Namun sayangnya bila kembali pada pertanyaan berapa kali nada berpegangan pada handrail saat menaiki tangga, maka jawabannya adalah tidak pernah atau kadang-kadang.  Anda tidak percaya? Mari kita lihat disekeliling kita.  Berapa banyak orang yang berpegangan pada handrail saat mereka berjalan melalui tangga di mall-mall? Berapa banyak pula orang yang berpegangan pada handrail saat mereka sedang menaiki jembatan penyebrangan? Atau bila anda mahasiswa maka tanyakanlah pada diri anda berapa kali saya berpegangan pada handrail saat saya sedang menaiki tangga gedung dikampus?

Tak dapat dipungkiri berpegangan pada handrail saat sedang berjalan menaiki dan menuruni tangga bukanlah hal yang membudaya dimasyarakat kita.  Hampir tidak ada orangtua yang mengajarkan pada anaknya untuk selalu berpegangan pada handrail saat naik atau turun tangga.  Saya juga belum pernah menemukan guru yang mengajarkan pada muridnya untuk berpegangan pada handrail saat naik atau turun tangga disekolah.  Apalagi masih banyak tangga di berbagai lokasi yang bahkan tidak memiliki handrail.  Padahal risiko untuk terjatuh pada saat menaiki atau menuruni tangga tidaklah kecil.  Kita juga harus ingat bahwa bukan hanya faktor ketinggian saja yang dapat menciderai kita bila terjatuh dari tangga, tetapi juga faktor lingkungan disekeliling tangga tersebut (misalnya bebatuan, palang kayu, tepian dinding yang tajam, dll yang ada disekitar tangga).

Jadi mulai sekarang marilah kita berpegangan pada handrail setiap kita menaiki atau menuruni tangga.  Selalu sediakan minimal salah satu tangan kita untuk berpegangan pada handrail.  Tubuh kita terlalu berharga untuk diletakkan pada risiko cidera walaupun hanya 1 atau 2 persen saja.

Saat berjalan mungkin hanya segelintir dari kita yang pernah membayangkan akan terjatuh.  Saat terjatuh maka hampir kita semua akan berkata ”SEANDAINYA saya berpegangan saat menaiki atau menuruni tangga tadi”

Ingat, penyesalan selalu datang terlambat.

Bookmark and Share

Studi banding? yang bener aja

Posted on March 30th, 2008 in Uncategorized by dhoncol

JAKARTA - Studi banding alias "plesiran" anggota DPR ke luar negeri tampaknya memang tidak bisa dibendung. Kunjungan pansus RUU Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan ke Brazil dan Aljazair, didukung penuh oleh Ketua DPR. "Ini bukan tugas yang sifatnya pribadi, tapi tugas kedewanan. Dalam arti, jumlahnya sudah ada ketentuannya dari sekjen, berapa pansus yang bisa diberangkatkan," ujar Ketua DPR Agung Laksono di DPR, Jakarta, Kamis (27/3/2008). Menurut Agung, kunjugan Pansus RUU itu dalam proses legislasi tetap dapat dibenarkan. Sebab, hal itu dilakukan dalam rangka untuk memperoleh masukan-masukan dan memperkaya Pansus DPR tersebut dalam menyelesaikan RUU. "Tentu jumlahnya dibatasi, tidak omdo-omdo (omong doang)," kilahnya. Bahkan ramai dibicarakan, bahwa istri dari Ketua Fraksi Partai Demokrat Syarifef Hasan yang juga artis, Inggrid Kansil, akan ikut dalam rombongan. "Saya kira berkali-kali dalam situasi seperti ini harus dihindarkan," ujarnya. Jadi, menurut Agung, kunjungan Pansus RUU Gelar, Tanda Jasa, dan Kehormatan itu memang diperlukan. "Tapi untuk legislasi masih diperlukan," …. (Ketua DPR Izinkan Pansus ke Brazil & Aljazair ;Kamis, 27 Maret 2008 - 11:59 wib; Sandy Adam Mahaputra – Okezone)

Menarik,sangat menarik. Berita diatas saya kutip dari Okezone.com. Satu kekonyolan bangsa ini, disaat harga minyak goreng sudah diatas Rp 12.000,-/kg, minyak tanah sudah harus dimasukkan kedalam kategori barang langka, dan disaat gizi buruk sudah tersebar dimana-mana ternyata yang terpikirkan didalam kepala wakil rakyat kita adalah lagi-lagi cara melakukan pembodohan pada rakyat untuk memuaskan hasrat diri mereka sendiri.

Tentu sangat beralasan bila banyak pihak mempertanyakan kepentingan dari studi banding tersebut bagi kepentingan negara, dan tidak pula sedikit cibiran bahwa ini hanyalah salah satu lagi tipu muslihat para wakil rakyat yang terhormat tersebut untuk mendapatkan liburan gratis.  Apa pentingnya kita belajar ke Brazil dan Aljazair mengenai pemberian tanda jasa dan tanda kehormatan. Memperkaya dan memberi masukan pada pansus2 DPR yang tidak penting ?! bullshit, omong kosong.  Apakah hanya untuk merumuskan kriteria, mekanisme dan cara pemberian tanda jasa dan tanda kehormatan saja kita tidak bisa.  LAgipula apa pentingnya masalah RUU pemberian tanda jasa dan tanda kehormatan di negara ini? masih banyak rakyat dinegara ini yang kelaparan, perlu beras, perlu tahu dan tempe untuk tambahan proteinnya, perlu sekolah yang layak dan tidak rubuh untuk belajar.  Disaat negara kita menjadi negara yang belum juga bisa bangkit dari krisis ekonomi, disaat negara kita menjadi salah satu negara yang top dalam hal korupsi, disaat harga diri negara ini mulai diinjak2 oleh negara tetangganya, disaat bencana dan kelapran melanda dimana2, disaat orang2 yang terkubur lumpur rumahnya belum juga mendapat penggantian haknya, ternyata yang menjadi prioritas para wakil rakyatnya hanyalah kepentingan pribadinya, hasrat id dirinya sendiri. dan yang lebih parah semua itu berusaha ditopengi dengan suatu alasan yang bodoh.

Malu, saya malu sebagai anak bangsa ini.  Ini adalah kekonyolan, saya tahu bukan sekali ini kekonyolan ini terjadi tetapi ini sudah tidak dapat ditolerir lagi. Bodoh ya bodoh, tapi mbok ya kentara amat tho paak….

Bookmark and Share

ayat-ayat cinta

Posted on March 16th, 2008 in Uncategorized by dhoncol

Ayat-Ayat Cinta “The Movie”

Menarik melihat antusiasme penikmat film di republik

Indonesia

ini untuk menyaksikan film layar lebar “Ayat-Ayat Cinta” yang diangkat dari novel karya Habiburrahman El-Shirazy.  Sekali lagi saya harus mengakui bahwa sudut pandang saya ternyata memang sedikit menyimpang dari selera pasar.  Terus terang saya sudah menonton film tersebut walaupun harus dipaksa, karena sebenarnya saya lebih tertarik untuk menyaksikan ”Jumper”.  Pada awal film saat saya melihat nama Punjabi bros yang menaungi produksi fim ini terus terang mulut saya semakin mengerucut.  Ya, saya semakin pesimis saya akan mendapatkan suguhan film pribumi yang masuk dalam kategori A atau minimal B dalam standar saya, menilik sinetron-sinetron dalam negeri yang beredar sebagian besar juga berbendera sama.  Kualitasnya? Jangan ditanya.  Sedikit terhibur melihat nama Hanung Bramantyo sebagai sutradara.  Nama seorang sineas muda yang menjadi salah satu pelaku era baru perfilman lokal ini sedikit memberi saya harapan akan keluar bioskop dengan hati yang puas.  Tapi ternyata saya tetap harus pulang dengan gerutuan dan wajah yang sebal.

Sebagian besar, bila tidak ingin dikatakan hampir semua, pendapat yang keluar atas film tersebut kalau saya rangkumkan adalah luar biasa, menyentuh, oase ditengah gurun pasir perfilman Indonesia, pencerahan, film alternatif, agamis ditengah serbuan mistis. Tapi secara pribadi harus saya katakan, tanpa mengurangi apresiasi saya pada novel asal cerita berikut penulisnya, film ini tetaplah ”film indonesia”.  Ya, film ”khas” Indonesia yang miskin alur cerita, mudah ditebak, seret imajinasi, dan sedikit tidak masuk akal pada beberapa adegan.  Mudah sekali meraba ceritanya, bahkan satu jam sebelum film berakhir saya sudah bisa melihat gambaran umum alur ceritanya hingga selesai.  Secara umum saya katakan film ini hanya sebuah tampilan cerita klise dengan bungkus dan pemeran yang baru, sebuah cerita sinetron dalam tampilan layar lebar.  Dan yang membuatnya laris dipasaran hanyalah faktor novelnya sendiri yang laku dipasaran dan memang memiliki kualitas dan nilai tersendiri yang membuat orang menjadi antusias untuk menyaksikan film yang di angkat dari novel tersebut.

Bookmark and Share

How come??

Posted on August 17th, 2007 in Uncategorized by dhoncol

gila…beberapa hari yang tidak pernah terduga. Entah kenapa tiba-tiba banyak sekali manusia yang mw mengurusi urusan gw. entah kenapa tiba-tiba banyak orang yang dengan sukarelanya menyumbangkan pemikirannya ke gw. disaat sebenarnya gw pengen orang cuek sama gw. Yah, gw sih g pernah menampik bahwa sebagian dari mereka mungkin bermaksud baik sama gw.  Mungkin mereka merasa saya adalah teman atau bagian dari mereka. 
untuk beberapa saat gw merasakan menjadi bahan "gosipan" orang-orang disekitar gw. dan ternyata rasanya gak enak, bangetttt.  Gimana ya….apa gw harus bersukur, gembira, mengumpat, atau sedih dengan semua "kepedulian" orang-orang disekitar gw ini…
jeeeez……hopefuly i can recover myself soon, or else several tranqulizers sounds good to me..

Bookmark and Share

Atarax 0.5

Posted on August 4th, 2007 in Uncategorized by dhoncol

Hmmm……It’s been a hard days, as always,lately.  Gila,kenapa masalah jdi ruwet banget. With no place nor anyone to share. Lama-lama bisa gila beneran gua. Dan pada akhirnya Atarax 0.5 memberikan temptasi yang cukup besar pada gua untuk dipergunakan. apalagi titel gw memberikan kemudahan untuk mendapatkannya.  Tapi jangan suuzon dulu, cuma tranquilizer minor kq. yah, ternyata cukup menyenangkan juga menggunakan tranquilizer minor ya :>  Memang seperti pengecut sih, melarikan diri dari masalah. Tapi, at the very least obat ini ngasi gw ketiadaan pikian untuk beberapa saat, yang memang gua perlukan untuk mulai kembali memikirkan segalanya dengan lebih baik. Hopefully…

Bookmark and Share

Penyangkalan

Posted on June 1st, 2007 in Uncategorized by dhoncol

Nama saya Dhoni Suhendra, dengan sedikit embel-embel gelar dokter.  Sekarang saya berstatus sebagai Pegawai Tidak Tetap Dinas Kesehatan RI, yang di"pekerjakan" di sebuah rumah sakit di Bandarlampung. Sudah sebulan berjalan, tapi sampai sekarang saya masih bertanya-tanya dalam hati apakah saya sudah mengambil keputusan yang tepat.

Selama ini saya selalu menjadikan alasan gaji untuk mendukung ketidak setujuan saya untuk menjadi PTT di daerah yang terpencil atau di kota.  Saya selalu mengatakan pada kawan-kawan saya yang menjadi PTT di kota atau daerah terpencil alangkah kecilnya gaji yang tanpa insentif tersebut. Tapi ironisnya sekarang malah saya sendiri mengambil keputusan untuk menjadi PTT BSB yang gajinya bahkan lebih kecil lagi dan tanpa insentif. Ya ampuunn…..Untuk beberapa saat saya mulai berdalih.  Rejeki urusan tuhan, tidak peduli tempat maupun pekerjaan, asalkan mau berusaha hasil bukan kita yang menentukan. ya, kalimat itu yang sekarang mulai menjadi echo didalam benak saya.  Entah itu kepasrahan, penerangan, atau hanya sebuah denial. Ya, saya khawatir pikiran yang bergaung dikepala saya itu hanyalah sebuah penyanggahan saja.  Karena toh saya masih tetap merasa iri dan dengki bila medengar cerita-cerita teman-teman saya yang mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar dengan status yang sama seperti saya.  Hanya tentu saja mereka didaerah dan saya dikota. Lagi-lagi sebuah penyangkalan….

Beberapa teman sudah mulai menapaki tingkat selanjutnya dari profesi yang  telah kami pilih ini. Beberapa lainnya juga sudah menetapkan rencana kesana. Biasanya saya tersenyum dan turut merasa senang untuk mereka. Tapi tetap terlintas didalam hati kapan saya akan bisa seperti mereka. Setiap orang punya jalan masing-masing. Setiap orang punya rejeki masing-masing. yah…lagi-lagi sebuah penyangkalan.

Beberapa orang kawan akan segera menikah dalam waktu dekat ini, beberapa sudah menikah beberapa waktu yang lalu, dan beberapa sudah merencanakan akan menyegerakan pula pernikahannya. Lalu saya kapan? Ya, sabar…semua ada waktunya. Toh usia masih belum genap 25, masih banyak juga kawan yang belum menikah. jadi bukan masalah besar bila beberapa orang teman mendahului. Yah, tetap saja sebuah penyangkalan…..

Bookmark and Share

PTT n WANGSIT.

Posted on February 27th, 2007 in Uncategorized by dhoncol

He..he..he.. Apa hubungannya ya PTT ma wangsit.
Ya, sebenarnya ini cuma buat ngungkapin kebingungan (lagi) gw aja. Beberapa bulan yang lalu gw seperti juga sebagian besar kawan-kawan yang lain masih menunggu-nunggu dengan penuh harap bukaan PTT yang baru.  Awal bulan tadi agak rajin juga login ke ropeg-depkes buat ngeliatin kalo-kalo aja pengumuman PTT.  Eh, pucuk dicinta ulam tiba, tanggal 26 kemaren keluar juga tu pengumuman.  Dengan berbunga-bunga gw buka lagi halamannya ropeg, gw baca pengumumannya, trus gw liatin formasi daerah PTTnya.  Lalu perlahan-lahan bunga-bunga tadi mulai gugur dan layu sebelum berkembang..ya.. yang timbul perlahan-lahan malah rasa bingung.  Nah lo, gw mau daftar kemana ni???? Tadinya gw pengen ngambil daerah yang masuk kategori sangat terpencil, tapi langsung kepikiran soal listrik n komunikasi.  Ya listrik, bukan air ato transpor.  Gw bisa tahan mendep di pulau enam bulan atau setahun, gw juga g begitu peduli soal mandi dengan air bersih atau minum air yang layak (he..he..he jorok banget ya gw), tapi membayangkan hidup tanpa hiburan alat-alat yang diberi nyawa oleh listrik n tanpa alat komunikasi keluar yang memadai (oh gosh!!).  Kemudian gw mulai mikir untuk ngedaftar ke daerah dengan kategori terpencil aja, tapi mulai terbayang soal insentif yang (aduuh..bukannya gw matre ya) sama besarnya dengan yang gw dapet sambil luntang lantung di Palembang.  Ada yang cukup menjanjikan si, tadinya gw pengen ikutan daftar ke Kepri, tapi masya Allah.. peminatnya.  Kalah gw, kalah tahun kelulusan, kalah STR, kalah kartu kependudukan.  Dan sekarang sekali lagi gw bengong didepan komputer sambil ngliatin formasi daerah penerima dokter PTT.
Hhh…kayaknya bertahun-tahun di"manjakan" listrik dan satelit udah bikin gw kehilangan jiwa petualang (…..), kalo bukan mau dibilang keilangan semangat juang ato semangat berbakti pada ibu pertiwi (???).  Jadi gw dah mulai mikir-mikir mau nekat aja ni.  Sambil menunggu "wangsit".  Gila, udah persis kaya orang mau masang nomor togel aja gw.  Mudah-mudahan seminggu ini Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana berkenan menjernihkan pikiran dan logika gw biar gw menimbang dengan baik, bijaksana, cermat, dan efisien.  Jadi langkah apa yang gw pilih ntar gak cuma sekedar "nekat" arau hanya secercah wangsit. gee..man! gua percaya sama insting, but wangsit (heck!) kalo di Jiwa dibilang halusinasi auditorik tu.  Salah-salah di dianosis Schizo ntar…

Bookmark and Share

ironis

Posted on February 21st, 2007 in Uncategorized by dhoncol

Ironis,
Ya, satu kata itulah yang terlintas dalam benak saya saat mendengan
beberapa berita di televisi akhir-akhir ini mengenai operasi pasar
beras untuk rakyat miskin. Bagaimana tidak, dalam pembagian beras yang
notabene untuk orang miskin tersebut ternyata masih banyak pihak yang
mencari keuntungan sendiri. Berapa kali saya dengar dalam berita
tersebut bahwasanya banyak beras operasi pasar tersebut yang malah
jatuh ketangan para pedagang yang akan menjual kembali beras tersebut
pada orang miskin, yang sebenarnya lebih berhak dan lebih perlu atas
beras tersebut, untuk mendapatkan keuntungan sendiri.
Banyak opini yang mengatakan perlunya bulog ,sebagai pihak yang
bertanggungjawab atas operasi pasar tersebut, untuk meningkatkan
pengawasan dalam operasi pasar yang dilakukannya.  Tetapi opini saya
sendiri mempertanyakan "sudah semiskin inikah mental bangsa kita?".
"Sudah sebegitu mengakarkah perilaku purbakala yang hanya mengedepankan
id tanpa kendali ego dan superego ini pada bangsa  kita?" Karena
ternyata bukan hanya pihak atas yang terus  mengambil  keuntungan
sambil membutakan mata dan hati mereka atas keadaan orang lain dinegara
ini yang dalam orasi-orasi jaman perjuangan dulu disebut sebagai
"saudara-saudara sebangsa dan setanah air!!!", tapi juga pihak bawah
yang menggunakan setiap kesempatan yang ada dan yang mereka miliki
untuk untuk mengeruk keuntungan pribadi.  Tidak ada pihak yang malu
untuk meminta kenaikan gaji, atau memborong beras operasi pasar
sementara banyak diantara saudara-saudaranya yang bahkan untuk
mendapatkan nasi aking pun sudah kesusahan. Tidak ada pihak yang merasa
malu untuk menuntut pembangunan ruang-ruang mewah pribadi dikantor
mereka sementara banyak orang yang harus tinggal di penampungan.
Berapa banyak pula orang yang merasa keberatan mengembalikan beberapa
puluh uang rapel dengan alasan mereka tidak punya cukup uang, dengan
segala kendaraan dan tempat tinggal mewah yang mereka miliki, sementara
banyak orang yang bahkan untuk mencari uang 10.000 rupiah pun sudah
setengah mati.
Kadang terngiang kembali kata-kata seorang teman saya, "Indonesia
memerlukan revolusi total untuk menghilangkan segala keburukan yang
mengakar dalam diri orang-orangnya.  Satu generasi harus dimusnahkan
supaya rantai keburukan ini  terputus." Suatu pemikiran yang absurd
memang, tapi cukup untuk mewakili  bahwasanya segala masalah dan
kerusakan yang diderita bangsa kita ini karena memang kepribadian
bangsa kita yang rusak dan bahwasanya kerusakan itu akan terus
diturunkan pada generasi-generasi berikutnya bila kita tidak segera
sadar dan berusaha untuk berubah. Ya! kita, bukan saya, anda, kamu, atau kalian.

Bookmark and Share
Next Page »